Politik Indonesia kembali mendapatkan angin segar dengan munculnya pemimpin yang membawa ide brilian dalam membangun masyarakat. Salah satunya Bayu Setyo Nugroho, kepala Desa Dermaji periode 2011-2017 yang berinovasi dengan membuat Gerakan Desa Membangun yang terinpirasi sampai ke Gampong Cot Baroh Kecamatan Glumpang Tiga Kab.Pidie
Bayu Setyo Nugroho "Sosok Penggagas Gerakan Desa Membangun" |
Bayu lahir 17 Juni 1975 di Desa Dermaji, sebuah desa perbukitan dalam wilayah Kecamatan Lumbir di ujung paling barat wilayah Kabupaten Banyumas dan berbatasan dengan Kabupaten Cilacap. Ibunya seorang pensiunan guru SD Negeri 1 Dermaji, sedangkan ayahnya (almarhum) semasa hidupnya bekerja sebagai sekretaris desa atau carik.
Bayu memulai pendidikannya dengan masuk SD Negeri Dermaji 1. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Purwokerto, lalu SMA Negeri 1 Purwokerto. Selanjutnya, ia kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto jurusan ilmu administrasi negara. Setelah lulus kuliah pada 1999, sebetulnya ia sangat berminat melanjutkan ke jenjang sarjana strata dua (S2), tetapi karena keterbatasan biaya, niat tersebut terpaksa diurungkan. Namun, akhirnya pada 2013, ia pun lulus S2 Unsoed dengan konsentrasi studi ilmu administrasi publik.
Pengujung 2004 menjadi babak baru bagi Bayu. Dengan tekad memajukan desa kelahirannya melalui ilmu yang diperoleh selama kuliah, Bayu maju dalam bursa pemilihan umum kepala Desa Dermaji. Secara demokratis, ia terpilih menjadi kepala desa periode 2005 sampai 2011.
Transparan
Bagi Bayu, menjadi kepala desa memberikan
ruang yang lebih luas untuknya dalam mengaplikasikan ilmu-ilmu yang diperoleh
selama kuliah, terutama ilmu administrasi dan kebijakan publik. Dengan menjadi
kepala desa, ia lebih tahu proses perumusan, implementasi, hingga evaluasi
sebuah kebijakan.
Menjadi pejabat desa bukanlah hal baru
bagi Bayu. Ia sudah terbiasa melihat pekerjaan ayahnya melayani masyarakat
ketika menjabat sebagai carik. Meskipun begitu, ia menyadari adanya tantangan
yang dihadapi selama memimpin Desa Dermaji. Tantangan terbesar adalah ia
dituntut memiliki kemampuan mengenali dan menangkap aspirasi, serta kebutuhan
masyarakat dengan baik dan mewujudkannya menjadi sesuatu yang nyata.
Bayu menyadari bahwa keinginan dan
kebutuhan masyarakat beraneka ragam. Untuk memenuhinya, ia lebih banyak
mendengar dan bekerja dengan sepenuh hati. Dalam berkomunikasi dengan warga, ia
menggunakan pendekatan kekeluargaan yang menekankan jalinan kasih sayang. Ia
juga megutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan yang menyangkut
kepentingan masyarakat.
Selain pendekatan kekeluargaan dan
musyawarah, tranparansi juga dilakukannya dalam berbagai aktivitas desa.
Menurut ayah dari Yuanita Aura Dewi, transparansi bisa terwujud dengan
mendorong partisipasi masyarakat di setiap level pelaksanaan kegiatan
pembangunan, mulai dari perencanaan sampai evaluasi.
Bentuk transparansi bisa dilihat dari
informasi yang mudah, jelas, dan akuntabel tentang suatu aktivitas pembangunan
yang sudah, sedang, dan akan dilakukan. Salah satunya melalui website desa
(dermaji.desa.id). Website tersebut, antara lain menampilkan kabar dari tiap
kampung, potensi desa, hingga opini dan profil warga setempat.
Hal lain yang dilakukan Bayu adalah
mengawasi penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berasal dari desanya.
Menurut Bayu, meski menjadi bagian kerja keseharian aparat desa, pengawasan
penempatan TKI masih jarang diperhatikan. Dengan didukung Pusat Sumber Daya
Buru Migran Infest Yogyakarta, Paguyuban Peduli Buruh Migran, dan Perempuan Seruni
Banyumas, Desa Dermaji akan memulai proses perbaikan tata kelola perlindungan
buruh migran dengan merapikan data kependudukan dan membangun database penduduk
yang bermigrasi ke luar negeri untuk bekerja.
Untuk itu, Desa Dermaji menggunakan sistem
informasi tata kelola pemerintahan desa “Mitra Desa" yang dikembangkan
oleh Gerakan Desa Membangun (GDM) dan Infest Yogyakarta. Database ini
memudahkan proses pencarian data warga yang bekerja di luar negeri, sehingga
penanganan kasus dan pengawasannya lebih mudah dilakukan.
Perpustakaan Desa
Dalam kepemimpinannya, Bayu bermimpi
masyarakat di desa menjadi masyarakat pembelajar, yaitu masyarakat yang
memiliki semangat, kesadaran, dan tradisi untuk terus mencari, menemukan, dan
menciptakan pengetahuan. Pengetahuan itu dicari, ditemukan, dan diciptakan oleh
masyarakat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih berkualitas. Menurutnya, desa
harus menjadi pusat peradaban baru. Hal itu dapat terwujud apabila masyarakat
desa memiliki akses sebesar-besarnya pada informasi dan ilmu pengetahuan.
Untuk mewujudkan impian tersebut, pihaknya
menyelenggarakan perpustakaan desa dan museum desa. Museum desa berisi
benda-benda yang pernah digunakan warga Desa Dermaji dalam mempertahankan
hidup. Nama museum diambil dari nama kepala desa yang pertama, yaitu Naladipa.
Museum yang diresmikan pada 17 Juni 2013 menjadi media untuk mengingat kearifan
masa lalu untuk membangun masa depan. (dilansir dari www.beritasatu.com dan GampongMembangun)
0 Komentar